Rabu, 13 November 2013

Seni Rupa kalimantan Tengah

 

Sipet

Sumpitan (sipet) merupakan pula salah satu senjata etnik Dayak di Kalimantan.
Senjata ini umumnya digunakan sebagai alat berburu, menyerang musuh dan melawan
segala mara bahaya. Menurut kepercayaan Etnik Dayak sumpitan (sipet) tidak boleh
digunakan untuk membunuh sesama umat manusia.
Peluru atau anak sumpitan yang tajam seperti panah disebut domek. Untuk menambah
ampuh, lazimnya, domek diberikan suatu zat racun yang diperoleh dari getah sejenis akar yang diolah sedemikian rupa disebut ipu. Ipu ditaruh (digosok) pada ujung anak
sumpitan. Karena itu manusia atau binatang yang terkena ipu akan keracunan. Sebelum
digunakan domek disimpan dalam suatu tempat khusus, disebut telep. Cara
melepaskan domek dari sumpitan ialah dengan meniup sekeras mungkin melalui lobang
sumpitan yang lurus.
Jarak capai anak sumpitan ini cukup jauh sehingga ia merupakan senjata yang praktis
untuk berburu. Menurut bentuknya itu, nenek moyang Etnik Dayak mengharapkan
bahwa setiap orang harus jujur, lurus seperti lobang sumpitan sehingga dapat
tercipta ketulusan dan perdamaian.
Mandau

Kalimantan adalah salah satu dari 5 pulau besar yang ada di Indonesia. Sebenarnya
pulau ini tidak hanya merupakan “daerah asal” orang Dayak semata karena di sana ada
orang Banjar (Kalimantan Selatan) dan orang Melayu. Dan, di kalangan orang Dayak
sendiri satu dengan lainnya menumbuh-kembangkan kebudayaan tersendiri. Dengan
perkataan lain, kebudayaan yang ditumbuh-kembangkan oleh Dayak-Iban tidak sama
persis dengan kebudayaan yang ditumbuh-kembangkan Dayak-Punan dan seterusnya.
Namun demikian, satu dengan lainnya mengenal atau memiliki senjata khas Dayak yang
disebut sebagai mandau. Dalam kehidupan sehari-hari senjata ini tidak lepas dari pemiliknya. Artinya, kemanapun ia pergi mandau selalu dibawanya karena mandau juga
berfungsi sebagai simbol seseorang (kehormatan dan jatidiri). Sebagai catatan,
dahulu mandau dianggap memiliki unsur magis dan hanya digunakan dalam acara ritual
tertentu seperti: perang, pengayauan, perlengkapan tarian adat, dan perlengkapan
upacara.
Mandau dipercayai memiliki tingkat-tingkat kampuhan atau kesaktian. Kekuatan
saktinya itu tidak hanya diperoleh dari proses pembuatannya yang melalui ritual-ritual
tertentu, tetapi juga dalam tradisi pengayauan (pemenggalan kepala lawan). Ketika itu
(sebelum abad ke-20) semakin banyak orang yang berhasil di-kayau, maka mandau
yang digunakannya semakin sakti. Biasanya sebagian rambutnya sebagian digunakan
untuk menghias gagangnya. Mereka percaya bahwa orang yang mati karena di-kayau,
maka rohnya akan mendiami mandau sehingga mandau tersebut menjadi sakti. Namun,
saat ini fungsi mandau sudah berubah, yaitu sebagai benda seni dan budaya,
cinderamata, barang koleksi serta senjata untuk berburu, memangkas semak belukar
dan bertani.

Telawang

TELAWANG atau KELABET adalah alat pertahanan diri dari serangan musuh yang menggunakan senjata tajam yang terkenal dan digunakan di seluruh Kalimantan. Terbuat dari kayu yang kuat, begian depannya diberi ukiran khas dayak Gong dalam etnik Dayak, berfungsi sebagai
alat komunikasi yang vital dan alat seni budaya. Sebagai alat komunikasi gong juga
dibunyikan untuk pemberitahuan, baik adanya bahaya, musuh datang dari luar,
kebakaran atau panggilan untuk sesuatu pekerjaan gotong royong. Dalam peristiwa kematian, misalnya, gong dibunyikan tiga kali berturut-turut dalam waktu tertentu
selama mayat masih belum dimakamkan. Bunyi itu terdengar sampai kampung-kampung
yang jauh sehingga kaum kerabat dari tempat jauh datang untuk menghadiri upacara
pemakaman. Dalam acara seni budaya, gong juga mempunyai peranan penting, seperti
pada upacara-upacara “BOKAS”, “TIWAH”, upacara penyambutan tamu-tamu yang
dihormati, perkawinan dan acara kesenian lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar